![]() | ||
| Suasana Lengger Bicara 2026 di Menara Teratai, Purwokerto. Sumber: foto pribadi. |
Suara iringan instrumen Tari Banyumas Megot mulai terdengar. Bukan menggunakan tabuhan musik seperti gambang ataupun kendang yang dimainkan oleh sekelompok pengrawit bersama seorang sinden, melainkan suara yang menggelegar dari sound system dengan seorang sound man di belakang kendali. Disusul kemunculan para penari Lengger dengan kostum berwarna cerah, gerakan mereka lembut, luwes, sekaligus penuh energi. Sorak penonton pecah ketika ratusan penari tampil serempak. Namun, di tengah kekaguman itu, salah satu teman kami tiba-tiba berbisik, "Kenapa tari Lengger yang kita lihat sekarang terasa berbeda dengan yang sering diceritakan orang tua dulu?" Pertanyaan sederhana itu justru membuat kami terus berpikir.
Usai pertunjukan, kami berbincang dengan beberapa penari. Menurut Santi dan Riri, sejauh yang mereka ketahui, pertunjukan Lengger masa kini tidak lagi didahului ritual-ritual tertentu seperti puasa, tirakat, ataupun penyediaan sesajen sebagaimana yang sering diceritakan masyarakat terdahulu. Kini, fokus penyelenggaraan lebih diarahkan pada kualitas pertunjukan dan bagaimana Lengger dapat dinikmati masyarakat luas. “Saya tidak tahu kalau harus ada ritual dan sebagainya, kami hanya melakukan flashmob selama 30 menit lalu menari bersama,” ujar Riri.
Perubahan tersebut membuat Lengger tampak lebih modern dan mudah diterima. Namun di sisi lain, muncul pertanyaan yang sulit dihindari: jika unsur-unsur spiritual yang dahulu melekat pada Lengger mulai ditinggalkan, apakah tari ini masih dapat disebut sebagai Lengger dalam makna yang sama?
Pertanyaan tersebut bukan berarti menganggap bahwa seluruh kelompok Lengger pada masa lalu selalu menjalankan ritual yang sama. Akan tetapi, berbagai cerita masyarakat dan sejumlah kajian menunjukkan bahwa praktik spiritual memang pernah menjadi bagian dari sebagian tradisi Lengger Banyumas. Artinya, perubahan yang terjadi saat ini layak dipahami sebagai bagian dari transformasi budaya, bukan sekadar perubahan bentuk pertunjukan.
Transformasi tersebut terlihat jelas dalam penyelenggaraan Lengger Bicara. Berdasarkan penelitian Representasi Budaya pada Event Lengger Bicara untuk Meningkatkan Minat Kunjungan Wisatawan di Kabupaten Banyumas, Lengger kini direpresentasikan melalui media sosial dan website resmi sebagai kebudayaan yang modern, inklusif, sekaligus menjadi identitas masyarakat Banyumas. Cara promosi yang sebelumnya lebih banyak mengandalkan penyebaran informasi dari mulut ke mulut kini bergeser menuju pendekatan digital yang mampu menjangkau masyarakat lebih luas.
Penelitian tersebut juga menunjukkan bahwa penyelenggaraan Lengger Bicara tidak lagi hanya menghadirkan pertunjukan tari tradisional. Pada tahun 2024, Lengger dipadukan dengan berbagai unsur seni, seperti kentongan, orkestra, hingga drama musikal. Bahkan, penyelenggaraan tahun 2025 menghadirkan Art Camp Lengger Bicara yang diikuti peserta dari enam negara, yaitu Jepang, Thailand, Pakistan, Bangladesh, Sudan, dan Indonesia. Pada tahun yang sama, jumlah pengunjung dilaporkan mencapai lebih dari 20.000 orang, sedangkan penyelenggaraan tahun sebelumnya melibatkan sekitar 10.245 penari dan disaksikan kurang lebih 15.000 penonton. Angka-angka tersebut menunjukkan bahwa Lengger telah berkembang menjadi atraksi budaya yang memiliki daya tarik wisata sekaligus memperkuat identitas Banyumas.
Di sisi lain, perubahan tersebut memang tidak muncul begitu saja. Perkembangan zaman turut mengubah cara masyarakat memandang budaya. Dalam artikel Kumparan, Wiwi Susanti menjelaskan bahwa dahulu sebagian calon penari Lengger dipercaya harus memiliki indang, yakni kekuatan spiritual yang diyakini dapat diperoleh melalui tirakat atau diwariskan secara turun-temurun. Selain itu, terdapat praktik puasa mutih sebagai bagian dari persiapan sebelum menari. Ritual tersebut dipandang sebagai bentuk penyucian diri sekaligus penghormatan terhadap leluhur.
Namun, praktik-praktik tersebut kini semakin jarang dijumpai, terutama dalam pertunjukan yang berorientasi pada festival maupun pariwisata. Generasi muda lebih banyak mengenal Lengger melalui sanggar seni, sekolah, atau komunitas budaya. Mereka mempelajari teknik tari, koreografi, ekspresi, dan kekuatan fisik secara profesional tanpa harus menjalani rangkaian ritual spiritual sebagaimana yang pernah dilakukan sebagian penari pada masa lalu.
Perubahan itu sebenarnya mencerminkan kenyataan bahwa budaya bersifat dinamis. Sebuah tradisi tidak selalu bertahan dalam bentuk yang sama karena masyarakat yang mendukungnya pun terus berubah. Di tengah kehidupan modern, tidak semua praktik lama dapat dipertahankan. Sebaliknya, budaya sering kali melakukan penyesuaian agar tetap memiliki ruang hidup di tengah masyarakat.
Karena itu, menurut kami, yang terpenting bukanlah mempertentangkan antara Lengger "yang dulu" dan Lengger "yang sekarang". Yang perlu dipertanyakan justru bagaimana esensi budaya tersebut tetap terjaga ketika bentuknya mengalami perubahan. Esensi tersebut bukan semata-mata terletak pada ritual yang mengiringinya, melainkan pada nilai kebersamaan, penghormatan terhadap warisan leluhur, serta identitas Banyumas yang terus diwariskan melalui tari Lengger. Kehadiran begitu banyak generasi Z yang turut memeriahkan Lengger Bicara menjadi salah satu indikator bahwa ketertarikan dan kepedulian terhadap seni tradisi masih tetap hidup. Dengan kata lain, perubahan cara penyajian tidak serta-merta menghilangkan kecintaan generasi muda terhadap warisan budaya.
Event seperti Lengger Bicara patut diapresiasi karena berhasil membawa Lengger keluar dari stigma sebagai kesenian yang kuno. Melalui kemasan yang lebih modern, Lengger mampu menarik perhatian anak muda, wisatawan, bahkan peserta dari luar negeri. Akan tetapi, modernisasi saja belum cukup. Di balik gemerlap panggung, penonton juga perlu diajak memahami sejarah, filosofi, dan perjalanan budaya Lengger sehingga mereka tidak hanya menikmati keindahan tariannya, tetapi juga memahami makna yang dikandungnya.
.jpeg)
Komentar
Posting Komentar